#selfnote

http://venturebeat.com/2016/07/17/forget-learning-to-code-every-employee-should-know-data-analysis/

Advertisements

Buku Product Knowledge PPKS

Keinginan untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai produk PPKS dalam satu buku akhirnya bisa terwujud. Buku Product Knowledge PPKS: Dari Kami untuk Kelapa Sawit Indonesia hadir di kantor kami pada Oktober 2015. Sedikit demi sedikit kami tambah materinya. Memang masih belum sempurna, namun setidaknya dapat menjadi pegangan  bila ada yang bertanya tentang harga kecambah, bibit kelapa sawit, tarif jasa pelayanan, dan harga-harga buku terbitan PPKS. Semoga buku kecil ini bisa terus diperbaiki dengan kemasan yang lebih menarik dan informatif. Bila ada yang ingin mengakses dapat melalui link terlampir:

product knowledge_Edisi 2016_Final

buku cover pk

International Seminar on Oil Palm Breeding and Seed Production 29 – 30 September 2016

The International Society for Oil Palm Breeders (ISOPB), Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), dan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menyelenggarakan the International Seminar on Oil Palm Breeding and Seed Production pada 29 – 30 September 2016 di Kisaran Sumatera Utara. Informasi lengkap dapat dilihat pada brosur terlampir:

ISOPB 2016_landscape

Informasi lengkap lainnya dapat diakses melalui website ISOPB:

http://isopb.mpob.gov.my/index.php

ISOPB

Visualisasi silsilah kelapa sawit menggunakan software Helium

Mungkin ini yang disebut dengan berkah Ramadan. Sekian lamanya mencari software yang bisa memvisualisasikan silsilah (pedigree) kelapa sawit dalam bentuk yang lengkap, akhirnya bertemu dengan Software Helium.

Software ini dikembangkan oleh Paul Shaw dari The James Hutton Institute yang berkolaborasi dengan  Professor Jessie Kennedy and Martin Graham from the Institute for Informatics and Digital Innovation at Edinburgh Napier University. Publikasi tentang software ini dilakukan pada tahun 2014, namun softwarenya sendiri baru tersedia secara online pada 6 Juni 2016.

Informasi tentang software dapat dilihat pada link sebagai berikut:

https://ics.hutton.ac.uk/helium/

Berikut adalah contoh pedigree material genetik yang digunakan pada program pemuliaan kelapa sawit di PPKS. Contoh tentang format data dan kategori dapat dilihat halaman website Helium.

Pedigree_Grup_B_2016_ES

Selamat mencoba.

 

Sejarah Kelapa Sawit di Indonesia

Pendahuluan

Berawal dari empat benih kelapa sawit yang diintroduksi pada tahun 1848, industri kelapa sawit Indonesia terus berkembang hingga menjadi penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia.  Saat ini luasan perkebunan kelapa sawit Indonesia mencapai 10,95 juta ha dan produksi crude palm oil (CPO) sebesar 29,5 juta ton (Ditjenbun, 2014). Nilai ekspor minyak sawit dan produk turunannya ekspor mencapai USD 17 milyar (Kemendag, 2015) atau sekitar 14% dari total ekspor non migas.  Selain sebagai sumber pemasukan devisa, kelapa sawit juga sangat berperan dalam penyediaan tenaga kerja dan pengembangan wilayah melalui dampak multiplier effect dari pengembangan perkebunan kelapa sawit.

Sebagai salah satu sumber minyak nabati dunia, kelapa sawit di Indonesia memegang peranan penting dalam perdagangan global. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek, yakni (1) kemampuan Indonesia untuk meningkatkan produksi baik melalui proses intensifikasi maupun ekstensifikasi, (2) harga yang kompetitif, dan (3) aspek nutrisi kelapa sawit (Pamin, 1998).  Untuk peningkatan produksi melalui ekstensifikasi, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan luas areal perkebunan kelapa sawit di wilayah perbatasan. Berdasarkan hasil penilaian kesesuaian lahan, luas areal potensial wilayah perbatasan sebesar 3,7 juta ha untuk dapat dikembangkan menjadi perkebunan kelapa sawit (Santoso et al, 2015).

Dari sisi produktivitas, tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang paling produktif dibandingkan dengan dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya, Dengan rerata produksi minyak antara 4-5 ton/ha pada skala komersial, tingkat produksi minyak kelapa sawit melebihi kemampuan produksi minyak dua tanaman utama penghasil minyak nabati lainnya, yakni rapeseed (2 ton/ha) dan kedelai (0.5 ton/ha) (Zimmer, 2010).  Produktivitas kelapa sawit diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan penerapan best management practices, dan diharapkan dapat mencapai potensi produksi sekitar 8-10 ton CPO/ha/tahun, sebagaimana yang diperoleh dari hasil-hasil pengujian projeni.

Bila ditinjau dari aspek harga, kelapa sawit merupakan komoditi yang kompetitif dibandingkan dengan rapeseed dan kedelai. Hasil kajian Zimmer (2010) menunjukkan bahwa biaya produksi untuk  menghasilkan 1 ton minyak kelapa sawit sebesar USD 300, lebih rendah dibandingkan dengan biaya produksi 1 ton minyak kedelai (USD 400 – 800) dan minyak rapeseed (USD 500 – 1200). Beberapa kelebihan kelapa sawit dari aspek biaya mencakup biaya input produksi, biaya operasi (kecuali biaya tenaga kerja) dan biaya lahan. Hasil kajian ekonomi oleh Agri Benchmark menunjukkan bahwa pasar minyak nabati dunia di masa depan akan dikendalikan oleh keberadaan/supplyminyak kelapa sawit (Anggraeni dan Zimmer, 2014). Perkembangan konsumsi minyak nabati dunia dan kontribusi minyak kelapa sawit pada 1965, 1980 dan 2014 dapat dilihat pada Gambar 1.

GAPKI2014

Gambar 1.  Perkembangan konsumsi minyak nabati dunia 1965, 1980, dan 2014

(Sumber: GAPKI 2014)

 

Kekuatan kelapa sawit juga direfleksikan melalui kandungan nutrisi kelapa sawit.  Kelapa sawit merupakan minyak nabati yang kaya akan beta karoten (pro vitamin A) dan vitamin E. Keseimbangan antara komponen jenuh  (saturated) dan minyak tak jenuh (unsaturated) pada minyak kelapa sawit memungkinkan kelapa sawit untuk menyediakan fraksi padat yang alami tanpa memerlukan proses hidrogenasi, sehingga memiliki lebih sedikit struktur molecul trans (Pamin, 1998).

Tinta emas keberhasilan perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia tidak terlepas dari sejarah pemasukan (introduksi) material kelapa sawit dari Afrika pada pertengahan abad ke 19. Makalah ini mengulas kembali sejarah introduksi dan awal pengembangan kelapa sawit di Indonesia, serta kontribusi penelitian pemuliaan kelapa sawit dalam mendukung perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia.

Introduksi Kelapa Sawit ke Indonesia

Catatan paling awal mengenai introduksi kelapa sawit ke Indonesia (dahulu disebut Netherlands India atau Hindia Belanda) tercantum dalam Hunger (1917), Rutgers et al. (1922) dan Hunger (1924)  yang menyebutkan bahwa terdapat empat bibit kelapa sawit yang ditanam di Buitenzorg Botanical Garden (Kebun Raya Bogor) pada tahun 1848. Dari empat bibit tersebut, dua bibit diintroduksi dari Bourbon atau Mauritius pada Februari 1848 oleh D.T Pryce (Gambar 2), sementara dua bibit yang lainnya diintroduksi dari Amsterdam pada Maret 1848. Rutgers et al. (1922) menduga bahwa bibit dari Amsterdam juga berasal dari kelompok yang sama dengan bibit yang berasal dari Bourbon.

Pryce

Gambar 2. D.F. Pryce yang mengintroduksi kelapa sawit ke Kebun Raya Bogor pada 1848 dari Bourbon/Mauritius (Sumber: reproduksi dari Hunger et al. 1924)

Laporan resmi pertama mengenai tanaman kelapa sawit yang diintroduksi oleh D.T. Pryce di Bogor ditulis pada 23 Maret 1850 oleh J.E. Teysmann (Gambar 3), seorang pengawas Pemerintahan (Intendant Gouvernements-hotels), yang isinya sebagai berikut: ‘Elaeis guineensis dari Hortus Botanicus Amsterdam yang dibawa oleh D.T. Pryce telah diterima. Palma ini merupakan tanaman yang menghasilkan minyak (Hunger, 1924)

Pada 1 Maret 1853, Teysmann kembali menulis laporan:Elaeis guineensis yang telah dilaporkan sebelumnya, telah menghasilkan bunga dan ditemukan bahwa dua tanaman yang berasal dari Bourbon keduanya berbunga jantan, tetapi dua tanaman lainnya yang berasal dari Hortus Botanicus Amsterdam keduanya berbunga betina. Tanaman yang terakhir akan segera menghasilkan buah’ (Hunger, 1924).

Pada Maret 1856, Teysmann menuliskan laporan tentang kelapa sawit di Kebun Raya Bogor sebagai berikut: “Tanaman Elaeis guineensis yang sebelumnya hanya menghasilkan bunga jantan atau bunga betina, pada akhirnya menghasilkan bunga jantan dan bunga betina. Telah diperoleh banyak buah dari tanaman-tanaman tersebut, yang sebagian buahnya direbus untuk diambil minyaknya, dan sebagian buah digunakan untuk reproduksi. Namun demikian, belum diketahui apakah tanaman ini akan produktif dalam menghasilkan minyak, sebagaimana halnya tanaman kelapa, palma yang paling bermanfaat yang telah menyebar secara luas” (Hunger, 1924).

Teysmann

Gambar 3. J.F. Teysmann, ahli botani di Kebun Raya Bogor

Buah kelapa sawit yang dipanen dari empat dura tersebut (sesuai laporan Teysmann) didistribusikan secara gratis ke berbagai wilayah pada tahun 1853 (Rutgers et al, 1922).  Pada tahun 1858, Sekretaris Kantor Kolonial (the Secretary of the Colonial Office) di Hindia Belanda mengajak Pemerintah Negara Belanda untuk menjajaki kemungkinan penanaman kelapa sawit di Indonesia. Sebanyak 146 lot benih kelapa sawit didistribusikan ke: (i) Jawa dan Madura (mencakup Bagelen, Banyumas, Banyuwangi, Bantam, Batavia, Besuki, Cirebon, Yogyakarta, Jepara, Kediri, Kedu, Madiun, Madura, Pasuruan, Pekalongan, Priangan, Probolinggo, Rembang, Semarang, Surabaya, Surakarta, Tegal), (ii) Sumatera (Bengkulu, Lampung, Palembang, Sumatera Timur, Sumatera Barat, Tapanuli, Riau), (iii) Kalimantan, (iv) Sulawesi, (v) Maluku, (vi) Nusa Tenggara.

Sebelum tahun 1860 sekitar 3.4 ha areal percobaan kelapa sawit dibangun di Banyumas dan 0.74 ha dibangun di Palembang (Rutgers, 1924).  Selama periode 1859 – 1864, pengeluaran tahunan dibuat untuk pemeliharaan percobaan ini. Pada tahun 1864, percobaan kelapa sawit di Banyumas dan Palembang dihentikan. Laporan resmi menyatakan bahwa tanaman kelapa sawit di kebun percobaan tumbuh lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan di tempat asalnya, dan tanaman mulai menghasilkan buah pada umur 4 tahun, lebih cepat dibandingkan di tempat asalnya yang memerlukan waktu 6-7 tahun untuk berbuah. Tanaman kelapa sawit tidak hanya diujicobakan di wilayah Banyumas dan Palembang, tetapi juga ditanam di residen lainnya, seperti di Residen Priangan. Beberapa perkebunan swasta juga mengujicobakan tanaman kelapa sawit di wilayah Pamanukan dan Ciasem, Cikandi Udik, Ciomas dan beberapa tempat lainnya.

Pada 1875, benih kelapa sawit yang berasal dari Kebun Raya Bogor ditanam di Distrik Deli Sumatera. Empat tahun kemudian pada 1879, J. Krol, Kepala Deli Maaatschappij melaporkan ke Kebun Raya Bogor bahwa kelapa sawit yang ditanam di Distrik Deli tumbuh dengan sangat baik (Rutgers et al., 1922).

dura bogor

Gambar 4. Kelapa sawit yang diintroduksi ke Kebun Raya Bogor pada tahun 1848

(Sumber: Foto RY Purba, reproduksi dari Lubis, 1992)

Pada 1878, Direktur Kebun Raya Bogor merancang sebuah plot percobaan kelapa sawit seluas 1 acre (0.4 ha) di Economic Garden, Bogor.  Kelapa sawit yang ditanam di Economic Garden ini diduga menjadi sumber kelapa sawit yang ditanam di perkebunan tembakau di Sumatra. Menurut Rutgers et al (1922) kelapa sawit diketahuiditanamdi perkebunan tembakau dekat Medan, dimana pengelola perkebunan menggunakan tanaman kelapa sawit sebagai tanaman hias di pinggir-pinggir jalan menuju bungalow dan gedung pusat. Tanaman paling tua diketahui berada di St. Cyr Estate yang ditanam pada 1884 dan Bekala Estate yang ditanam pada 1888. Selain itu, terdapat juga pohon kelapa sawit yang ditanam di St. Cyr Estate dan Bekala Estate pada 1898,  di Morawa Estate pada  1898 dan 1903, serta di perkebunan Medan, Polonia, Sei Sikambing, dan Roterdam.

Kurangnya publikasi mengenai kegunaan kelapa sawit pada masa tersebut menyebabkan tidak adanya industri perkebunan kelapa sawit sebelum tahun 1911. Ketidaktertarikan untuk mengusahakan kelapa sawit dikarenakan ketiadaan industri pengolahan dan pada saat itu kelapa sawit tidak dapat berkompetisi dengan tanaman kelapa. Meskipun hasil pengujian di plot-plot percobaan menunjukkan hasil yang sangat baik, tetapi pengembangan kelapa sawit pada skala ekonomi pada masa itu tidak segera dikembangkan oleh Pemerintah Belanda.  Dr Hunger dalam tulisannya mengenai sejarah kelapa sawit menyampaikan opini bahwa kegagalan dalam pengembangan kelapa sawit di Jawa lebih karena sikap dari otoritas lokal yang tidak memiliki antusias untuk mengembangkan lebih lanjut, dan menghentikan percobaan kelapa sawit sesegera mungkin.

Awal Pengembangan Kelapa Sawit di Indonesia (1911 – 1945)

Tonggak pengembangan kelapa sawit di Indonesia pada skala ekonomi dibangun oleh M. Adrien Hallet, seorang warga negara Belgia. Berbekal pengetahuan tentang kelapa sawit yang didapat dari Kongo – Afrika, dan melihat pertumbuhan kelapa sawit yang baik sebagai tanaman hias di Sumatera, Hallet membangun perkebunan kelapa sawit pertama seluas 6500 acre (~ 2630 ha) pada 1911 di wilayah Sumatera bagian Timur mencakup Pulu Raja (Asahan) dan Sungai Liput (Aceh) dengan menggunakan bahan tanaman orijin Deli. Pada saat yang bersamaan, K. Schadt, warga negara Jerman, menanam 2000 bibit kelapa sawit di Tanah Itam Ulu. Di tahun-tahun berikutnya, kelapa sawit ditanam di setiap wilayah yang berdekatan dengan distrik-distrik tersebut.

Perang dunia pertama mempengaruhi perkembangan luas areal kelapa sawit. Hingga 1917, luas perkebunan kelapa sawit di Sumatera masih sekitar 1.605 ha. Setelah perang dunia pertama, industri kelapa sawit berkembang cukup pesat. Pada tahun 1918 terdapat 2.100 ha kebun kelapa sawit yang dikelola oleh 19 kebun. Pabrik kelapa sawit (PKS) pertama dibangun di Sungei Liput pada tahun 1918.

Pada tahun 1922, jumlah perkebunan yang mengelola kelapa sawit mencapai 25 maskapai di Sumatera Timur, delapan maskapai di Aceh, dan satu maskapai di Sumatera Selatan dengan total luas area sekitar 6.916 ha dan meningkat menjadi 31.600 ha pada tahun 1925 (Hartley, 1977).  Pada tahun 1938, perkebunan kelapa sawit di Sumatera mencapai luasan 90.000 ha (Moll, 1987), dan terus meningkat menjadi 100.000 ha pada 1939 yang dikelola oleh 66 kebun (Lubis, 1992).

Pada masa penjajahan Jepang 1942 – 1945, banyak perkebunan kelapa sawit yang diganti dengan tanaman pangan dan pabrik kelapa sawit dihentikan  kegiatannya (Lubis, 1992). Setelah kemerdekaan, pada tahun 1947 kebun-kebun tersebut dikembalikan ke pemiliknya semula. Setelah direinventarisasi hanya 47 kebun saja yang dapat dibangun  kembali  dari 66 kebun sebelumnya. Beberapa kebun mengalami kehancuran total seperti Kebun Taba Pingin dan Kebun Oud Wassenar di Sumatera Selatan, Kebun Ophir di Sumatera Barat, Kebun Karang Inou di Aceh dan beberapa kebun di Riau (Lubis, 1992).

Perkembangan Kelapa Sawit Pasca Kemerdekaan

Perkembangan luas areal kelapa sawit setelah masa penjajahan Jepang hingga tahun 1969 hanya mengalami peningkatan sekitar 10.000 ha. Pada masa setelah kemerdekaan, terjadi stagnasi dan situasi politik sangat tidak mendukung perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia. Namun demikian, beberapa hal yang dicatat pada periode peralihan 1957 – 1968 sebagai berikut (Lubis, 1992):

  1. Pemerintah Indonesia mengambil alih atau nasionalisasi perusahaan Belanda pada 10 Desember 1957. Hal ini dilakukan sesuai Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 229/UM/1957
  2. Pengembalian perusahaan milik Inggris, Perancis, Belgia dan Amerika kepada pemiliknya masing-masing pada 19 Desember 1967
  3. Reorganisasi Perusahaan Negara Perkebunan (PNP), melalui penggabungan Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) pada 1961-1962.
  4. Pembentukan organisasi baru berdasarkan komoditas, yakni karet, aneka tanaman, tembakau, gula dan serat pada 1963 – 1968, yang disusul dengan pembentukan PT. Perkebunan (PTP).

Pulihnya keamanan dan politik setelah gerakan G30S/PKI serta semangat membangun dari  Pemerintahan Orde Baru banyak mengundang perhatian investor asing seperti Bank Dunia dan Asian Development Bank untuk berkontribusi dalam pembangunan perkebunan. Pada masa Pembangunan Lima Tahun (Pelita) I yang dimulai pada 1968, pembukaan areal kelapa sawit dilakukan di luar wilayah tradisional.  Dalam upaya pengembangan perkebunan besar swasta, Direktorat Jenderal Perkebunan menyusun kebijakan Perkebunan Besar Swasta Nasional (PBSN) melalui mekanisme kredit pada tahun 1977. Skema PBSN berjalan cukup baik dalam tiga tahap, yakni PBSN I pada 1977 – 1981, PBSN II 1981 – 1986, dan PBSN III pada 1986 – 1989 (Lubis, 1992).  Perkembangan luas areal kebun kelapa sawit di Indonesia disajikan pada Gambar 4.

kelapa sawit 1917-2014

Gambar 4. Perkembangan luas areal kelapa sawit di Indonesia 1917 – 2014

Kontribusi Pemuliaan Kelapa Sawit

Perkembangan industri kelapa sawit Indonesia tidak terlepas dari peran bahan tanaman di dalamnya. Meski hanya berkontribusi 7-8% dari total biaya produksi, namun keberadaan bahan tanaman sangat menentukan berhasil atau tidaknya suatu perkebunan. Pemilihan bahan tanaman dengan kualitas unggul menjamin tingkat produksi yang stabil untuk masa ekonomi selama 25 tahun.  Karakter unggul varietas kelapa sawit dapat dilihat dari mutu genetis (potensi hasil tinggi), mutu fisiologis (daya tumbuh), dan mutu morfologis (keseragaman dan higienitas benih).  Hingga April 2015, Pemerintah Indonesia telah merilis 46 varietas kelapa sawit dengan berbagai karakter unggulan yang menyertainya. Varietas-varietas ini berasal dari 11 produsen benih, yakni 10 produsen dalam negeri dan 1 produsen dari luar negeri. Institusi pemuliaan, nama varietas, genetic background dan nama pemulia yang menghasilkan varietas disajikan pada Tabel Lampiran 1.

Perakitan varietas unggul kelapa sawit dilakukan melalui proses yang sangat panjang, tenaga ahli dari berbagai bidang ilmu, lokasi pengujian yang luas, serta biaya yang tidak sedikit. Kegiatan perakitan ini memadukan antara teknologi, seni dan intuisi dalam proses persilangan, pengujian, seleksi, dan perbanyakan. Kita mengenal kegiatan perakitan varietas unggul ini sebagai aktivitas pemuliaan tanaman. Dalam proses pemuliaan kelapa sawit, setidaknya terdapat empat komponen yang menjadi persyaratan,  yaitu: (1) material genetik dengan variasi sifat di dalamnya, yang dikenal sebagai populasi dasar; (2) tujuan pemuliaan, yakni ideotype tanaman dengan sifat/karakter yang diinginkan; (3) metode seleksi, cara menguji dan memilih individu/populasi untuk sifat yang diinginkan; (4) reproduksi, metode perbanyakan benih/bahan tanaman dari individu hasil seleksi.

 

Hasil-hasil pemuliaan tanaman di PPKS

Program pemuliaan kelapa sawit  RRS dikembangkan di PPKS sejak 1973. Program ini diilhami oleh tulisan Comstock et al.(1949) yang mengenalkan metode seleksi untuk peningkatan rerata populasi, menjaga keragaman genetik, dan mengeksploitasi heterosis dari populasi. Meunier dan Gascon (1972) menguraikan aplikasi RRS ini pada kelapa sawit, dengan tujuan utama untuk mendapatkan varietas yang berproduksi minyak tinggi.

Siklus pertama RRS di PPKS dilaksanakan pada 1973 -1985 dengan melibatkan sebanyak 410 persilangan DxP/T antara 161 genitor dura dan 139 genitor tenera/pisifera. Populasi tenera/pisifera yang digunakan dalam program RRS siklus pertama terdiri atas 8 (delapan) populasi, yakni populasi Sungei Pancur, populasi Sungei Pancur/Bangun, populasi Dolok Sinumbah, populasi Bah Jambi, populasi Yangambi, populasi Marihat, populasi La Mé, dan populasi Nifor (Lubis et al., 1991), sementara dura yang digunakan seluruhnya berasal dari populasi Deli. Dari siklus pertama RRS dihasilkan 6 varietas kelapa sawit, yakni DxP Avros, DxP Bah Jambi, DxP Dolok Sinumbah, DxP Marihat, DxP La Me, dan DxP Yangambi yang dirilis pada tahun 1985, sementara dari program pemuliaan FIPS yang dilakukan oleh Puslitbun Medan telah dihasilkan 2 varietas kelapa sawit, yakni DxP Sungai Pancur 1 dan DxP Sungai Pancur 2.

Pengujian RRS siklus kedua dimulai pada 1986 menggunakan tetua-tetua terbaik dari siklus pertama. Beberapa rekombinasi persilangan, baik dari group dura maupun group tenera/pisifera diuji di empat lokasi. Hasil pengujian siklus kedua menunjukkan produksi rata-rata pada umur 6-9 tahun sebesar 6,76 ton CPO/ha/tahun, lebih tinggi 13% dibandingkan hasil pada siklus pertama. Dibandingkan dengan siklus pertama, kenaikan nilai genetik RRS siklus kedua mencapai 7,3 % untuk tandan buah segar (TBS) dan 10,3 % untuk produksi minyak. Dari siklus kedua RRS telah dihasilkan 5 varietas unggul kelapa sawit, yakni DxP Simalungun dan DxP Langkat yang dirilis pada 2003, DxP PPKS 540 dan DxP PPKS 718 yang dirilis pada tahun 2007, serta DxP PPKS 239 yang dirilis pada tahun 2010.

PPKS telah menyalurkan bahan tanaman kelapa sawit sejak 1971 (Gambar 6). Bila dihitung sejak awal penyaluran hingga tahun 2014, PPKS telah menyalurkan sebanyak 1,03 milyar butir kecambah, atau setara dengan areal kelapa sawit seluas 5 juta ha.

kecambah ppks

Gambar 6. Grafik penyaluran kecambah kelapa sawit di PPKS periode 1971 – 2014

 

Referensi

GAPKI. 2014. Industri minyak sawit Indonesia menuju 100 tahun NKRI: Membangun kemandirian ekonomi, energi dan pangan secara berkelanjutan. 265 hal.

Hartley, CWS. 1977. The Oil Palm. Longsman. London

Hunger, FTW. 1924. De Oliepalm (Elaeis guineensis): Historisch onderzoek over den oliepalm in nederlandisch-indie. N.V.Boekhandel end Drukkerij voorheen E.J. Brilll. Leiden.

Lubis, AU. 1978. Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Marihat. Pematang Siantar.

Lubis, R.A,. Akiyat, and B. Nouy. 1991. Synthetic comparison of yield evolution in North Sumatra of the Marihat RCEC first cycle DxP crosses.

Meunier, J. and J.P. Gascon. 1972. General scheme for oil palm improvement at the IRHO. Oleagineux, 21 (1) : 1 – 12

Pamin, K. 1998. A hundred and fifty years of oil palm development in Indonesia: From the Bogor Botanical Garden to the Industry. Proceedings 1998 International Oil Palm Conference: Commodity of the past, today and the future. pp3-25.

Rutgers, AAL, Blommendal, HN, Van Heurn, FC, Heusser, C, Mass, JGJA, and Yampolsky, C. 1922. Investigation on Oil Palm. Ruygro & Batavia, Co.

 

Note: Materi lengkap dapat didownload pada link berikut:

Sejarah Kelapa Sawit_2015_Final

Benih kelapa sawit

Penyaluran kecambah kelapa sawit di Indonesia oleh 10 (sepuluh) produsen benih selama rentang waktu 2011 – 2015 sangat berfluktuatif. Secara keseluruhan, jumlah benih yang disalurkan selama lima tahun terakhir menunjukkan kecenderungan menurun. Dengan kapasitas produksi sekitar 220 juta kecambah, dan penyerapan hanya berkisar antara 93 – 144 juta butir setiap tahunnya, maka dapat dikatakan bahwa benih kelapa sawit di Indonesia over-supply. Dari satu sisi, ketersediaan benih unggul yang melimpah akan berdampak positif karena konsumen diberikan banyak pilihan dan penyebaran benih ilegitim dapat dikurangi. Masih adanya pekebun yang membeli benih ilegitim lebih dikarenakan kurangnya pengetahuan mengenai keunggulan benih resmi.

 

Penyaluran KKS 2011 - 2015

 

 

Rencana

Niatnya ingin membuat blog khusus kelapa sawit. Gambar untuk header  sudah disiapkan. Tapi, belum kesampaian. Mungkin dijadikan satu dengan blog ini, dan dimasukkan ke dalam features Sawit dan Infografis. Mudah-mudahan hati dan semangat dikuatkan untuk menyiapkan materinya.

 

Urun rembug tentang Moratorium Kelapa Sawit

Pendahuluan

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, berencana mengeluarkan peraturan tentang moratorium lahan untuk kelapa sawit dan lahan tambang (Kompas, 14 April 2016). Pernyataan ini diungkapkan oleh Presiden pada saat kegiatan Gerakan Nasional Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar dalam rangka Hari Hutan Internasional di Pulau Karya, Kepulauan Seribu.  Luas lahan kelapa sawit yang ada saat ini dinilai sudah cukup dan dapat ditingkatkan kapasitas produksinya dengan memaksimalkan potensi yang ada. Menurut Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, peraturan moratorium ini akan dikeluarkan dalam bentuk Instruksi Presiden (Inpres). Namun demikian, wacana moratorium ini belum dikomunikasikan kepada para pemangku kepentingan kelapa sawit (Kompas, 14 April 2016).

Kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati global

Berdasarkan prediksi FAO yang dimuat dalam OECD-FAO Agricultural Outlook 2015 – 2024, konsumsi minyak nabati dunia pada tahun 2015 sebesar 175 juta ton dan akan terus meningkat hingga mencapai 210 juta ton pada 2024 seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia. Dari konsumsi tersebut, sebanyak 80% minyak nabati digunakan untuk kebutuhan pangan, 12% untuk bahan bakar, dan 8% untuk keperluan lainnya. Peningkatan kebutuhan akan minyak nabati harus diiringi dengan peningkatan produksi minyak nabati.

Palm product dari kelapa sawit dalam bentuk crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO) berkontribusi sebesar 62,54 juta ton atau 39% dari total produksi minyak nabati dunia (USDA, 2016).  Bila diasumsikan kontribusi kelapa sawit tetap setiap tahunnya, maka pada 2024 diperlukan sekitar 81,90 juta ton CPO dan PKO. Negara-negara utama penghasil palm product, antara lain Indonesia, Malaysia, Thailand, Colombia, Nigeria, dan Ecuador.

Pada tahun 2015, produksi palm product Indonesia mencapai 37 juta ton, yang terdiri atas 33,4 juta ton CPO dan 3,6 juta ton PKO (Oil World, 2016). Ekspor CPO, PKO dan produk turunannya dari Indonesia sebesar 28,4 juta ton dengan nilai sebesar US$ 16,95 milyar atau setara dengan Rp 228,8 trilyun (Kemendag, 2015). Dengan total produksi tersebut, Indonesia berkontribusi sebesar 53% dari total produksi CPO dan PKO dunia. Data ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan pemeran utama dalam perdagangan minyak nabati dunia.

Untuk memenuhi kebutuhan CPO dan PKO dunia pada 2024 sebesar 81,90 juta ton, sebanyak 43,4 juta ton diperkirakan berasal dari Indonesia. Hal ini dikarenakan posisi negara-negara penghasil CPO lainnya tidak memungkinkan untuk meningkatkan produksi kelapa sawit secara cepat akibat keterbatasan lahan dan faktor batasan budidaya (iklim dan hama penyakit). Indonesia masih berpeluang untuk terus meningkatkan kapasitas produksi kelapa sawit melalui perbaikan sistem budidaya (intensifikasi) dan perluasan areal.

Industri kelapa sawit di Indonesia

Berawal dari empat benih kelapa sawit yang diintroduksi dari Afrika pada tahun 1848, industri kelapa sawit Indonesia terus berkembang hingga menjadi penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia.  Luas perkebunan kelapa sawit Indonesia pada tahun 2015 mencapai 11,3 juta ha yang terdiri atas 750.000 ha perkebunan negara (6,6%), 5,97 juta ha perkebunan besar swasta nasional (52,8%), dan 4,58 juta ha perkebunan rakyat (40,5%).  Selain sebagai sumber pemasukan devisa, kelapa sawit juga sangat berperan dalam penyediaan tenaga kerja dan pengembangan wilayah melalui dampak multiplier effect dari pengembangan perkebunan kelapa sawit. Catatan dari PASPI (2015), jumlah tenaga kerja yang terserap pada industri kelapa sawit mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, yakni 2,1 juta orang pada tahun 2000 menjadi 8,4 juta orang pada tahun 2015. Tenaga kerja yang dimaksud mencakup karyawan di perusahaan perkebunan, petani kelapa sawit, tenaga kerja industri hilir dan tenaga kerja penyedia barang dan jasa.

Perkebunan kelapa sawit berkembang di 190 kabupaten dan 23 provinsi di Indonesia. Secara ekonomi, perkebunan kelapa sawit menggerakkan pertumbuhan dan perkembangan di daerah tersebut. Kontribusi perkebunan kelapa sawit terjadi melalui mekanisme fiskal baik ke pemerintah daerah maupun pemerintah pusat (PASPI, 2015). Perekonomian daerah dengan sentra perkebunan kelapa sawit tumbuh lebih cepat dibandingkan  dengan daerah yang tidak dihela oleh pertumbuhan sentra sawit, yang ditunjukkan oleh Produk Domestrik Bruto Regional (PASPI, 2015).

Moratorium dan perdagangan minyak nabati

Wacana moratorium lahan untuk pengembangan kelapa sawit akan berdampak besar kepada supply dan harga palm product ke pasar dunia. Hal ini dikarenakan: (a) Keseimbangan supply palm product di Indonesia selama ini terjadi dengan mekanisme berkurangnya produksi akibat peremajaan kelapa sawit yang mencapai 5% dari total area tanaman menghasilkan dikompensasi dengan penambahan luas areal kelapa sawit baru; dan (b) Berkurangnya supply akan berefek kepada naiknya harga minyak kelapa sawit, dan menjadi tidak kompetitif. Sebagaimana diketahui harga minyak sawit saat ini lebih kompetitif dibandingkan harga minyak nabati lainnya dan telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat dunia di negara-negara berpendapatan rendah. Kenaikan harga minyak sawit diprediksi akan mendorong kenaikan berlebihan pada harga minyak nabati lain, seperti minyak rapeseed, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari.

Moratorium dan azas keadilan

Kelapa sawit di Indonesia secara nyata telah berkontribusi terhadap pengembangan wilayah dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Wacana moratorium untuk pengembangan kelapa sawit lebih mencerminkan perlakuan tidak adil terhadap satu komoditas, ketimbang alasan untuk pelestarian lingkungan. Bila semua pihak ingin bersikap adil, maka moratorium juga perlu dilakukan untuk tanaman kedelai dan rapeseed. Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang paling produktif dan efisien dibandingkan kedelai dan rapeseed. Dengan rerata produksi minyak antara 4-5 ton/ha pada skala komersial, tingkat produksi minyak kelapa sawit melebihi kemampuan produksi minyak tanaman rapeseed (2 ton/ha) dan kedelai (0.5 ton/ha) (Zimmer, 2010).  Budidaya rapeseed dan kedelai memerlukan areal 3-10 kali lipat untuk menghasilkan tingkat produksi minyak yang sama dengan kelapa sawit. Data menunjukkan bahwa luas penambahan areal untuk budidaya kedelai mencapai 85,4 juta ha dan rapeseed 29,3 juta ha selama kurun waktu 48 tahun (1965-2013), sementara penambahan luas areal kelapa sawit pada kurun waktu yang sama hanya sebesar 13,4 juta ha.

Moratorium dan kedaulatan energi

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 23 Maret 2015 secara resmi meluncurkan Pelaksanaan Mandatori Pemanfaatan Biodiesel 15% (B15). Kebijakan B15 dilaksanakan dalam rangka mendukung kebijakan ekonomi makro dan menghemat devisa negara melalui pengurangan impor bahan bakar minyak.  Pelaksanaan mandatori B15 akan dapat menyerap produksi biodiesel dalam negeri sebesar 5,3 juta KL atau setara dengan 4,8 juta ton CPO dan memberikan penghematan devisa sebesar USD 2,54 miliar (Kementerian ESDM, Maret 2015). Kebijakan ini memerlukan ketersediaan CPO yang cukup sebagai bahan baku diesel. Pengalaman dalam  implementasi kebijakan B10 yang dicanangkan sejak 2013 belum terlalu efektif karena terkendala tingginya harga biodiesel. Adanya moratorium dikhawatirkan akan semakin melambungkan harga CPO, yang berdampak kepada harga biodiesel semakin tidak kompetitif. Rencana implementasi B15 dan B20 berbasis kelapa sawit juga akan terdampak dengan adanya moratorium ini.

Moratorium dan pengembangan wilayah perbatasan

Pemerintah pernah melontarkan rencana  untuk pengembangan satu juta hektar di wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia melalui penanaman komoditas kelapa sawit, tebu dan tanaman pangan pada awal tahun 2015.  Program pengembangan wilayah perbatasan diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat utamanya petani, baik yang di usaha perkebunan maupun di pertanian.  Pengembangan perkebunan kelapa sawit di wilayah perbatasan diharapkan berpotensi untuk menyerap 240.000 tenaga kerja baru, membuka wilayah pertumbuhan ekonomi baru, menambah produksi sawit nasional, dan mengukuhkan posisi Indonesia dalam perdagangan global produk sawit (Bisnis Indonesia, 8 April 2015). Berdasarkan hasil penilaian kelas kesesuaian lahan, estimasi luas areal yang potensial untuk tanaman kelapa sawit di 8 (delapan) kabupaten di Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia adalah 3,7 juta ha. Untuk jangka pendek, total lahan yang bisa dimanfaatkan sekitar 1,5 juta ha yang termasuk dalam kelas lahan S1 dan S2. Sebanyak 2,2 juta ha yang merupakan lahan kelas S3 dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kelapa sawit jangka panjang.

Wacana moratorium penggunaan lahan untuk kelapa sawit bertolak belakang dengan kebijakan Pemerintah dalam pengembangan wilayah perbatasan. Sebagaimana diketahui daerah perbatasan merupakan daerah yang memerlukan perhatian khusus. Wilayah perbatasan memiliki laju pertumbuhan dan perkembangan ekonomi yang lambat, jauh dari pusat kegiatan, infrastruktur yang minim, dan terbatasnya investasi dan intervensi dari luar. Sebagai agent of development, perkebunan kelapa sawit sangat berperan untuk ambil bagian dalam pengembangan wilayah. Perkebunan sawit cukup efektif menghidupkan kegiatan ekonomi di wilayah pedalaman. Bila moratorium dicanangkan maka pengembangan wilayah perbatasan akan terganggu karena hanya mengandalkan anggaran dari Pemerintah melalui kegiatan rutin. Melalui perkebunan kelapa sawit, pengembangan wilayah perbatasan dan daerah pedalaman dapat dilakukan dengan mengikutsertakan perusahaan swasta dan petani. Moratorium lahan untuk pengembangan sawit di wilayah sentra perkebunan kelapa sawit mungkin dapat dipahami, namun untuk wilayah-wilayah di perbatasan perlu dipertimbangkan kembali.

Kelapa sawit sebagai komoditi strategis

Misi untuk penataan lahan dalam kaitannya dengan perkebunan kelapa sawit tidak harus dilakukan dengan moratorium. Penyusunan cetak biru (blue print) industri kelapa sawit nasional, termasuk didalamnya peruntukan lahan bagi kelapa sawit, dengan melibatkan seluruh pemegang kepentingan (stakeholders) perlu dilakukan kembali dengan memasukkan kondisi terkini, mengingat kelapa sawit merupakan komoditas strategis nasional. Manajemen industri kelapa sawit nasional dalam koordinasi satu badan oleh Pemerintah, sebagaimana yang dilakukan oleh Malaysia melalui Malaysian Palm Oil Council dan Malaysian Palm Oil Board perlu dipertimbangkan keberadaannya. Terlalu banyaknya meja birokrasi yang menangani kelapa sawit menyebabkan pengembangan industri kelapa sawit tidak fokus dan saling tumpang tindih.

Moratorium, intensifikasi, dan transfer teknologi

Bila moratorium lahan untuk pengembangan kelapa sawit didasarkan kepada asumsi bahwa luas areal kelapa sawit di Indonesia telah mencukupi, maka konsekuensinya adalah percepatan intensifikasi. Produktivitas kelapa sawit Indonesia masih sangat rendah, sekitar 3,0 ton CPO/ha/tahun. Program intensifikasi untuk mencapai rerata nasional 5 ton/ha/tahun – yang ditujukan untuk mencapai produksi 45 juta ton pada 2024, akan terkendala dengan tingkat produksi rata-rata kelapa sawit dari perkebunan rakyat yang hanya mencapai 2.5 ton/ha/tahun. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa upaya perbaikan kebun kelapa sawit rakyat masih memerlukan waktu yang sangat panjang.

Selama ini, perkebunan kelapa sawit di Indonesia umumnya belum mencapai potensi hasil seperti yang diinginkan. Varietas kelapa sawit yang dirilis Pemerintah saat ini memiliki potensi hasil CPO dalam kisaran 7-9 ton/ha/tahun, sementara perusahaan perkebunan terbaik baru mencapai kinerja produksi CPO pada level 5-6 ton/ha/tahun. Tingkat produksi kelapa sawit pada perkebunan rakyat jauh lebih rendah lagi. Pada perusahaan besar, permasalahan kesenjangan hasil banyak terkait dengan keterbatasan potensi lahan (marjinal) dan iklim, serta penerapan kultur teknis yang belum optimal, seperti keterlambatan pemupukan dan kehilangan hasil saat panen. Masalah klasik di perkebunan rakyat adalah penggunaan bibit asalan dan minimnya pemahaman terhadap kultur teknis standar. Penggunaan bibit asalan oleh rakyat disebabkan oleh beberapa hal seperti akses yang terbatas, lokasi yang jauh dari produsen benih, serta keberadaan penjual benih ilegitim.

Di sisi lain, moratorium mungkin dapat menjadi pemicu untuk mempercepat transfer teknologi. Masalah lain di perkebunan rakyat adalah pengetahuan kultur teknis kelapa sawit yang masih kurang. Sementara itu, transfer paket teknologi untuk intensifikasi kepada pekebun rakyat masih belum berjalan secara maksimal. Dana yang tersedia di BPDP Kelapa Sawit dapat dialokasikan untuk pemberdayaan dan transfer teknologi ke petani. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah paket teknologi ini dalam proses transfernya ke petani akan lebih efektif dilakukan dalam kelompok-kelompok. Penguatan kelembagaan petani menjadi pekerjaan rumah lainnya untuk diselesaikan, selain isu sustainaibility pada perkebunan rakyat.

Paket-paket teknologi untuk peningkatan produktivitas kelapa sawit (intensifikasi) telah dikembangkan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), seperti penyediaan varietas kelapa sawit unggul berproduksi tinggi, teknik peremajaan yang ramah lingkungan, teknologi dan dosis standard pemupukan kelapa sawit yang telah teruji pada lahan mineral dan lahan gambut, pengendalian hama, penyakit dan gulma dengan pendekatan biologis, rekomendasi tindakan agronomis untuk antisipasi dinamika iklim yang dapat mengganggu pencapaian produksi seperti kekeringan, serta mekanisme perbaikan infrastruktur jalan untuk pengangkutan hasil yang lebih maksimal. Beberapa program yang telah dijalankan PPKS seperti Prowitra, Waralaba, Ruko Outlet, dan Desa Binaan merupakan media untuk transfer teknologi perlu lebih intensif dilakukan bersama petani.

Catatan akhir

Moratorium untuk pengembangan areal kelapa sawit dapat dilakukan secara selektif. Untuk wilayah-wilayah yang masih berpeluang untuk dikembangkan, seperti di wilayah perbatasan dan beberapa wilayah di Bagian Timur Indonesia, pengembangan kelapa sawit masih diperlukan mengingat multiplier effect kelapa sawit untuk percepatan pembangunan wilayah setempat.  Fokus percepatan intensifikasi diarahkan untuk perbaikan produktivitas kelapa sawit rakyat melalui transfer teknologi, peningkatan kapasitas, dan pendampingan dalam penerapan good agricultural practices.

Cerita di balik cover DAAD

Ini cerita tentang cover sebuah booklet terbitan DAAD tahun 2012. DAAD adalah sebuah lembaga Pemerintah Jerman yang memfasilitasi beasiswa dari berbagai negara untuk menempuh studi di Jerman. Saat saya mengambil program S2 dan S3, sebagian besar teman-teman seangkatan mendapat beasiswa dari DAAD. Sementara saya sendiri mendapat sponsor beasiswa dari kantor tempat saya bekerja, PPKS Medan.

Saya menjalani program doktoral di Institute of Plant Breeding, Georg-August-Universität Göttingen. Pada saat yang hampir bersamaan, ada 11 orang mahasiswa PhD lainnya. Bisa dibayangkan betapa meriahnya institut kami. Saya tergabung dalam kelompok riset Rapeseed dengan beberapa mahasiswa lainnya yang berasal dari Jerman, Malaysia dan Mesir. Untuk grup Rapeseed di tahun awal program doktoral, kami menghabiskan banyak waktu di lapangan.

Suatu hari, seorang fotografer freelance DAAD datang ke institut kami dan dia bilang ingin memotret kegiatan kami di kebun percobaan rapeseed. Kebetulan pada saat itu, sekitar bulan Mei 2011, areal rapeseed kami sedang indah-indahnya berbunga. Hamparan kuning di mana-mana. Sang fotografer meminta tiga orang dari Grup Rapeseed untuk menjadi model. Untuk mengakomodir typical international students, maka dipilihlah saya (Indonesia), Li Shia (Malaysia yang keturunan Tiongkok), serta Sebastian (asli dari Jerman).

Pemotretan dilakukan dengan persiapan seadanya. Pakaian pun hanya yang dipakai saat pengamatan. Li Shia memegang tongkat untuk mengukur tinggi tanaman, sementara saya dan Sebastian diminta untuk berakting layaknya dua peneliti yang sedang berdiskusi di lapangan. Pemotretan berjalan singkat, dan kami tidak berpikir apakah foto tersebut akan dipakai untuk cover sebuah booklet.

Hingga pada akhir 2011, Li Shia mendapat info dari temannya, seorang penerima beasiswa DAAD, bahwa wajahnya dijadikan cover booklet. Kami bertiga hanya senyum-senyum mengetahui hal ini, karena tidak ada satu pun dari kami yang mendapat beasiswa dari DAAD, tetapi berhasil menjadi cover booklet mereka.

Life is always beautiful.

image

Menghilangkan stress dengan Coloring for adults

Mungkin dapat dibilang terlambat bagi saya untuk mengetahui bahwa ada aplikasi ‘Coloring for Adults’ di Android. Baru malam ini saya menginstall aplikasi tersebut. Tapi tak apa. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.

Saya menyukai kegiatan mewarnai dan membuat doodle. Dulu saat SMA, saat pelajaran mulai terasa membosankan, saya mulai membuat doodle. Bentuknya abstrak. Kadang hanya bentuk bunga. Atau sekedar rangkaian huruf, berupa nama orang atau singkatan dengan hiasan aneka bentuk di dalamnya. Sayangnya, aneka doodle yg saya buat sejak SMA dan masa-masa kuliah tak terdokumentasi. Saya teringat seorang teman kost meminta saya membuatkan nama gadis yang disukainya dengan aneka warna. Katanya untuk hadiah ulang tahun si gadis. Dan mereka hidup bahagia berdua sekarang.

Aplikasi mewarnai untuk dewasa yang saya pilih namanya “Adult Coloring”. Ada fasilitas basic dengan beberapa galeri gambar yang bisa langsung digunakan. Contohnya gambar dari Galeri Mandala seperti di bawah ini:

image

Bagi yang menyukai kegiatan mewarnai, aplikasi Android yang satu ini benar-benar pilihan yang tepat. Dengan tambahan biaya sekitar US $ 9.9, kita bisa mengakses aneka galeri dan tambahan warna. Buat saya, aplikasi ini paling pas untuk stress relief sambil membayangkan kegiatan mewarnai dan membuat doodle saat SMA dan kuliah. Berikut hasil  mewarnai untuk gambar dari Galeri Secret Garden yang dikerjakan dalam waktu satu jam.

image

Sepertinya untuk beberapa waktu ke depan, website ini akan dipenuhi dengan gambar doodle warna-warni. Hal ini dikarenakan level stress akan meningkat secara signifikan menjelang Ramadhan.

Salam hangat.

image