Sejarah Kelapa Sawit di Indonesia

Pendahuluan

Berawal dari empat benih kelapa sawit yang diintroduksi pada tahun 1848, industri kelapa sawit Indonesia terus berkembang hingga menjadi penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia.  Saat ini luasan perkebunan kelapa sawit Indonesia mencapai 10,95 juta ha dan produksi crude palm oil (CPO) sebesar 29,5 juta ton (Ditjenbun, 2014). Nilai ekspor minyak sawit dan produk turunannya ekspor mencapai USD 17 milyar (Kemendag, 2015) atau sekitar 14% dari total ekspor non migas.  Selain sebagai sumber pemasukan devisa, kelapa sawit juga sangat berperan dalam penyediaan tenaga kerja dan pengembangan wilayah melalui dampak multiplier effect dari pengembangan perkebunan kelapa sawit.

Sebagai salah satu sumber minyak nabati dunia, kelapa sawit di Indonesia memegang peranan penting dalam perdagangan global. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek, yakni (1) kemampuan Indonesia untuk meningkatkan produksi baik melalui proses intensifikasi maupun ekstensifikasi, (2) harga yang kompetitif, dan (3) aspek nutrisi kelapa sawit (Pamin, 1998).  Untuk peningkatan produksi melalui ekstensifikasi, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan luas areal perkebunan kelapa sawit di wilayah perbatasan. Berdasarkan hasil penilaian kesesuaian lahan, luas areal potensial wilayah perbatasan sebesar 3,7 juta ha untuk dapat dikembangkan menjadi perkebunan kelapa sawit (Santoso et al, 2015).

Dari sisi produktivitas, tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang paling produktif dibandingkan dengan dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya, Dengan rerata produksi minyak antara 4-5 ton/ha pada skala komersial, tingkat produksi minyak kelapa sawit melebihi kemampuan produksi minyak dua tanaman utama penghasil minyak nabati lainnya, yakni rapeseed (2 ton/ha) dan kedelai (0.5 ton/ha) (Zimmer, 2010).  Produktivitas kelapa sawit diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan penerapan best management practices, dan diharapkan dapat mencapai potensi produksi sekitar 8-10 ton CPO/ha/tahun, sebagaimana yang diperoleh dari hasil-hasil pengujian projeni.

Bila ditinjau dari aspek harga, kelapa sawit merupakan komoditi yang kompetitif dibandingkan dengan rapeseed dan kedelai. Hasil kajian Zimmer (2010) menunjukkan bahwa biaya produksi untuk  menghasilkan 1 ton minyak kelapa sawit sebesar USD 300, lebih rendah dibandingkan dengan biaya produksi 1 ton minyak kedelai (USD 400 – 800) dan minyak rapeseed (USD 500 – 1200). Beberapa kelebihan kelapa sawit dari aspek biaya mencakup biaya input produksi, biaya operasi (kecuali biaya tenaga kerja) dan biaya lahan. Hasil kajian ekonomi oleh Agri Benchmark menunjukkan bahwa pasar minyak nabati dunia di masa depan akan dikendalikan oleh keberadaan/supplyminyak kelapa sawit (Anggraeni dan Zimmer, 2014). Perkembangan konsumsi minyak nabati dunia dan kontribusi minyak kelapa sawit pada 1965, 1980 dan 2014 dapat dilihat pada Gambar 1.

GAPKI2014

Gambar 1.  Perkembangan konsumsi minyak nabati dunia 1965, 1980, dan 2014

(Sumber: GAPKI 2014)

 

Kekuatan kelapa sawit juga direfleksikan melalui kandungan nutrisi kelapa sawit.  Kelapa sawit merupakan minyak nabati yang kaya akan beta karoten (pro vitamin A) dan vitamin E. Keseimbangan antara komponen jenuh  (saturated) dan minyak tak jenuh (unsaturated) pada minyak kelapa sawit memungkinkan kelapa sawit untuk menyediakan fraksi padat yang alami tanpa memerlukan proses hidrogenasi, sehingga memiliki lebih sedikit struktur molecul trans (Pamin, 1998).

Tinta emas keberhasilan perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia tidak terlepas dari sejarah pemasukan (introduksi) material kelapa sawit dari Afrika pada pertengahan abad ke 19. Makalah ini mengulas kembali sejarah introduksi dan awal pengembangan kelapa sawit di Indonesia, serta kontribusi penelitian pemuliaan kelapa sawit dalam mendukung perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia.

Introduksi Kelapa Sawit ke Indonesia

Catatan paling awal mengenai introduksi kelapa sawit ke Indonesia (dahulu disebut Netherlands India atau Hindia Belanda) tercantum dalam Hunger (1917), Rutgers et al. (1922) dan Hunger (1924)  yang menyebutkan bahwa terdapat empat bibit kelapa sawit yang ditanam di Buitenzorg Botanical Garden (Kebun Raya Bogor) pada tahun 1848. Dari empat bibit tersebut, dua bibit diintroduksi dari Bourbon atau Mauritius pada Februari 1848 oleh D.T Pryce (Gambar 2), sementara dua bibit yang lainnya diintroduksi dari Amsterdam pada Maret 1848. Rutgers et al. (1922) menduga bahwa bibit dari Amsterdam juga berasal dari kelompok yang sama dengan bibit yang berasal dari Bourbon.

Pryce

Gambar 2. D.F. Pryce yang mengintroduksi kelapa sawit ke Kebun Raya Bogor pada 1848 dari Bourbon/Mauritius (Sumber: reproduksi dari Hunger et al. 1924)

Laporan resmi pertama mengenai tanaman kelapa sawit yang diintroduksi oleh D.T. Pryce di Bogor ditulis pada 23 Maret 1850 oleh J.E. Teysmann (Gambar 3), seorang pengawas Pemerintahan (Intendant Gouvernements-hotels), yang isinya sebagai berikut: ‘Elaeis guineensis dari Hortus Botanicus Amsterdam yang dibawa oleh D.T. Pryce telah diterima. Palma ini merupakan tanaman yang menghasilkan minyak (Hunger, 1924)

Pada 1 Maret 1853, Teysmann kembali menulis laporan:Elaeis guineensis yang telah dilaporkan sebelumnya, telah menghasilkan bunga dan ditemukan bahwa dua tanaman yang berasal dari Bourbon keduanya berbunga jantan, tetapi dua tanaman lainnya yang berasal dari Hortus Botanicus Amsterdam keduanya berbunga betina. Tanaman yang terakhir akan segera menghasilkan buah’ (Hunger, 1924).

Pada Maret 1856, Teysmann menuliskan laporan tentang kelapa sawit di Kebun Raya Bogor sebagai berikut: “Tanaman Elaeis guineensis yang sebelumnya hanya menghasilkan bunga jantan atau bunga betina, pada akhirnya menghasilkan bunga jantan dan bunga betina. Telah diperoleh banyak buah dari tanaman-tanaman tersebut, yang sebagian buahnya direbus untuk diambil minyaknya, dan sebagian buah digunakan untuk reproduksi. Namun demikian, belum diketahui apakah tanaman ini akan produktif dalam menghasilkan minyak, sebagaimana halnya tanaman kelapa, palma yang paling bermanfaat yang telah menyebar secara luas” (Hunger, 1924).

Teysmann

Gambar 3. J.F. Teysmann, ahli botani di Kebun Raya Bogor

Buah kelapa sawit yang dipanen dari empat dura tersebut (sesuai laporan Teysmann) didistribusikan secara gratis ke berbagai wilayah pada tahun 1853 (Rutgers et al, 1922).  Pada tahun 1858, Sekretaris Kantor Kolonial (the Secretary of the Colonial Office) di Hindia Belanda mengajak Pemerintah Negara Belanda untuk menjajaki kemungkinan penanaman kelapa sawit di Indonesia. Sebanyak 146 lot benih kelapa sawit didistribusikan ke: (i) Jawa dan Madura (mencakup Bagelen, Banyumas, Banyuwangi, Bantam, Batavia, Besuki, Cirebon, Yogyakarta, Jepara, Kediri, Kedu, Madiun, Madura, Pasuruan, Pekalongan, Priangan, Probolinggo, Rembang, Semarang, Surabaya, Surakarta, Tegal), (ii) Sumatera (Bengkulu, Lampung, Palembang, Sumatera Timur, Sumatera Barat, Tapanuli, Riau), (iii) Kalimantan, (iv) Sulawesi, (v) Maluku, (vi) Nusa Tenggara.

Sebelum tahun 1860 sekitar 3.4 ha areal percobaan kelapa sawit dibangun di Banyumas dan 0.74 ha dibangun di Palembang (Rutgers, 1924).  Selama periode 1859 – 1864, pengeluaran tahunan dibuat untuk pemeliharaan percobaan ini. Pada tahun 1864, percobaan kelapa sawit di Banyumas dan Palembang dihentikan. Laporan resmi menyatakan bahwa tanaman kelapa sawit di kebun percobaan tumbuh lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan di tempat asalnya, dan tanaman mulai menghasilkan buah pada umur 4 tahun, lebih cepat dibandingkan di tempat asalnya yang memerlukan waktu 6-7 tahun untuk berbuah. Tanaman kelapa sawit tidak hanya diujicobakan di wilayah Banyumas dan Palembang, tetapi juga ditanam di residen lainnya, seperti di Residen Priangan. Beberapa perkebunan swasta juga mengujicobakan tanaman kelapa sawit di wilayah Pamanukan dan Ciasem, Cikandi Udik, Ciomas dan beberapa tempat lainnya.

Pada 1875, benih kelapa sawit yang berasal dari Kebun Raya Bogor ditanam di Distrik Deli Sumatera. Empat tahun kemudian pada 1879, J. Krol, Kepala Deli Maaatschappij melaporkan ke Kebun Raya Bogor bahwa kelapa sawit yang ditanam di Distrik Deli tumbuh dengan sangat baik (Rutgers et al., 1922).

dura bogor

Gambar 4. Kelapa sawit yang diintroduksi ke Kebun Raya Bogor pada tahun 1848

(Sumber: Foto RY Purba, reproduksi dari Lubis, 1992)

Pada 1878, Direktur Kebun Raya Bogor merancang sebuah plot percobaan kelapa sawit seluas 1 acre (0.4 ha) di Economic Garden, Bogor.  Kelapa sawit yang ditanam di Economic Garden ini diduga menjadi sumber kelapa sawit yang ditanam di perkebunan tembakau di Sumatra. Menurut Rutgers et al (1922) kelapa sawit diketahuiditanamdi perkebunan tembakau dekat Medan, dimana pengelola perkebunan menggunakan tanaman kelapa sawit sebagai tanaman hias di pinggir-pinggir jalan menuju bungalow dan gedung pusat. Tanaman paling tua diketahui berada di St. Cyr Estate yang ditanam pada 1884 dan Bekala Estate yang ditanam pada 1888. Selain itu, terdapat juga pohon kelapa sawit yang ditanam di St. Cyr Estate dan Bekala Estate pada 1898,  di Morawa Estate pada  1898 dan 1903, serta di perkebunan Medan, Polonia, Sei Sikambing, dan Roterdam.

Kurangnya publikasi mengenai kegunaan kelapa sawit pada masa tersebut menyebabkan tidak adanya industri perkebunan kelapa sawit sebelum tahun 1911. Ketidaktertarikan untuk mengusahakan kelapa sawit dikarenakan ketiadaan industri pengolahan dan pada saat itu kelapa sawit tidak dapat berkompetisi dengan tanaman kelapa. Meskipun hasil pengujian di plot-plot percobaan menunjukkan hasil yang sangat baik, tetapi pengembangan kelapa sawit pada skala ekonomi pada masa itu tidak segera dikembangkan oleh Pemerintah Belanda.  Dr Hunger dalam tulisannya mengenai sejarah kelapa sawit menyampaikan opini bahwa kegagalan dalam pengembangan kelapa sawit di Jawa lebih karena sikap dari otoritas lokal yang tidak memiliki antusias untuk mengembangkan lebih lanjut, dan menghentikan percobaan kelapa sawit sesegera mungkin.

Awal Pengembangan Kelapa Sawit di Indonesia (1911 – 1945)

Tonggak pengembangan kelapa sawit di Indonesia pada skala ekonomi dibangun oleh M. Adrien Hallet, seorang warga negara Belgia. Berbekal pengetahuan tentang kelapa sawit yang didapat dari Kongo – Afrika, dan melihat pertumbuhan kelapa sawit yang baik sebagai tanaman hias di Sumatera, Hallet membangun perkebunan kelapa sawit pertama seluas 6500 acre (~ 2630 ha) pada 1911 di wilayah Sumatera bagian Timur mencakup Pulu Raja (Asahan) dan Sungai Liput (Aceh) dengan menggunakan bahan tanaman orijin Deli. Pada saat yang bersamaan, K. Schadt, warga negara Jerman, menanam 2000 bibit kelapa sawit di Tanah Itam Ulu. Di tahun-tahun berikutnya, kelapa sawit ditanam di setiap wilayah yang berdekatan dengan distrik-distrik tersebut.

Perang dunia pertama mempengaruhi perkembangan luas areal kelapa sawit. Hingga 1917, luas perkebunan kelapa sawit di Sumatera masih sekitar 1.605 ha. Setelah perang dunia pertama, industri kelapa sawit berkembang cukup pesat. Pada tahun 1918 terdapat 2.100 ha kebun kelapa sawit yang dikelola oleh 19 kebun. Pabrik kelapa sawit (PKS) pertama dibangun di Sungei Liput pada tahun 1918.

Pada tahun 1922, jumlah perkebunan yang mengelola kelapa sawit mencapai 25 maskapai di Sumatera Timur, delapan maskapai di Aceh, dan satu maskapai di Sumatera Selatan dengan total luas area sekitar 6.916 ha dan meningkat menjadi 31.600 ha pada tahun 1925 (Hartley, 1977).  Pada tahun 1938, perkebunan kelapa sawit di Sumatera mencapai luasan 90.000 ha (Moll, 1987), dan terus meningkat menjadi 100.000 ha pada 1939 yang dikelola oleh 66 kebun (Lubis, 1992).

Pada masa penjajahan Jepang 1942 – 1945, banyak perkebunan kelapa sawit yang diganti dengan tanaman pangan dan pabrik kelapa sawit dihentikan  kegiatannya (Lubis, 1992). Setelah kemerdekaan, pada tahun 1947 kebun-kebun tersebut dikembalikan ke pemiliknya semula. Setelah direinventarisasi hanya 47 kebun saja yang dapat dibangun  kembali  dari 66 kebun sebelumnya. Beberapa kebun mengalami kehancuran total seperti Kebun Taba Pingin dan Kebun Oud Wassenar di Sumatera Selatan, Kebun Ophir di Sumatera Barat, Kebun Karang Inou di Aceh dan beberapa kebun di Riau (Lubis, 1992).

Perkembangan Kelapa Sawit Pasca Kemerdekaan

Perkembangan luas areal kelapa sawit setelah masa penjajahan Jepang hingga tahun 1969 hanya mengalami peningkatan sekitar 10.000 ha. Pada masa setelah kemerdekaan, terjadi stagnasi dan situasi politik sangat tidak mendukung perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia. Namun demikian, beberapa hal yang dicatat pada periode peralihan 1957 – 1968 sebagai berikut (Lubis, 1992):

  1. Pemerintah Indonesia mengambil alih atau nasionalisasi perusahaan Belanda pada 10 Desember 1957. Hal ini dilakukan sesuai Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 229/UM/1957
  2. Pengembalian perusahaan milik Inggris, Perancis, Belgia dan Amerika kepada pemiliknya masing-masing pada 19 Desember 1967
  3. Reorganisasi Perusahaan Negara Perkebunan (PNP), melalui penggabungan Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) pada 1961-1962.
  4. Pembentukan organisasi baru berdasarkan komoditas, yakni karet, aneka tanaman, tembakau, gula dan serat pada 1963 – 1968, yang disusul dengan pembentukan PT. Perkebunan (PTP).

Pulihnya keamanan dan politik setelah gerakan G30S/PKI serta semangat membangun dari  Pemerintahan Orde Baru banyak mengundang perhatian investor asing seperti Bank Dunia dan Asian Development Bank untuk berkontribusi dalam pembangunan perkebunan. Pada masa Pembangunan Lima Tahun (Pelita) I yang dimulai pada 1968, pembukaan areal kelapa sawit dilakukan di luar wilayah tradisional.  Dalam upaya pengembangan perkebunan besar swasta, Direktorat Jenderal Perkebunan menyusun kebijakan Perkebunan Besar Swasta Nasional (PBSN) melalui mekanisme kredit pada tahun 1977. Skema PBSN berjalan cukup baik dalam tiga tahap, yakni PBSN I pada 1977 – 1981, PBSN II 1981 – 1986, dan PBSN III pada 1986 – 1989 (Lubis, 1992).  Perkembangan luas areal kebun kelapa sawit di Indonesia disajikan pada Gambar 4.

kelapa sawit 1917-2014

Gambar 4. Perkembangan luas areal kelapa sawit di Indonesia 1917 – 2014

Kontribusi Pemuliaan Kelapa Sawit

Perkembangan industri kelapa sawit Indonesia tidak terlepas dari peran bahan tanaman di dalamnya. Meski hanya berkontribusi 7-8% dari total biaya produksi, namun keberadaan bahan tanaman sangat menentukan berhasil atau tidaknya suatu perkebunan. Pemilihan bahan tanaman dengan kualitas unggul menjamin tingkat produksi yang stabil untuk masa ekonomi selama 25 tahun.  Karakter unggul varietas kelapa sawit dapat dilihat dari mutu genetis (potensi hasil tinggi), mutu fisiologis (daya tumbuh), dan mutu morfologis (keseragaman dan higienitas benih).  Hingga April 2015, Pemerintah Indonesia telah merilis 46 varietas kelapa sawit dengan berbagai karakter unggulan yang menyertainya. Varietas-varietas ini berasal dari 11 produsen benih, yakni 10 produsen dalam negeri dan 1 produsen dari luar negeri. Institusi pemuliaan, nama varietas, genetic background dan nama pemulia yang menghasilkan varietas disajikan pada Tabel Lampiran 1.

Perakitan varietas unggul kelapa sawit dilakukan melalui proses yang sangat panjang, tenaga ahli dari berbagai bidang ilmu, lokasi pengujian yang luas, serta biaya yang tidak sedikit. Kegiatan perakitan ini memadukan antara teknologi, seni dan intuisi dalam proses persilangan, pengujian, seleksi, dan perbanyakan. Kita mengenal kegiatan perakitan varietas unggul ini sebagai aktivitas pemuliaan tanaman. Dalam proses pemuliaan kelapa sawit, setidaknya terdapat empat komponen yang menjadi persyaratan,  yaitu: (1) material genetik dengan variasi sifat di dalamnya, yang dikenal sebagai populasi dasar; (2) tujuan pemuliaan, yakni ideotype tanaman dengan sifat/karakter yang diinginkan; (3) metode seleksi, cara menguji dan memilih individu/populasi untuk sifat yang diinginkan; (4) reproduksi, metode perbanyakan benih/bahan tanaman dari individu hasil seleksi.

 

Hasil-hasil pemuliaan tanaman di PPKS

Program pemuliaan kelapa sawit  RRS dikembangkan di PPKS sejak 1973. Program ini diilhami oleh tulisan Comstock et al.(1949) yang mengenalkan metode seleksi untuk peningkatan rerata populasi, menjaga keragaman genetik, dan mengeksploitasi heterosis dari populasi. Meunier dan Gascon (1972) menguraikan aplikasi RRS ini pada kelapa sawit, dengan tujuan utama untuk mendapatkan varietas yang berproduksi minyak tinggi.

Siklus pertama RRS di PPKS dilaksanakan pada 1973 -1985 dengan melibatkan sebanyak 410 persilangan DxP/T antara 161 genitor dura dan 139 genitor tenera/pisifera. Populasi tenera/pisifera yang digunakan dalam program RRS siklus pertama terdiri atas 8 (delapan) populasi, yakni populasi Sungei Pancur, populasi Sungei Pancur/Bangun, populasi Dolok Sinumbah, populasi Bah Jambi, populasi Yangambi, populasi Marihat, populasi La Mé, dan populasi Nifor (Lubis et al., 1991), sementara dura yang digunakan seluruhnya berasal dari populasi Deli. Dari siklus pertama RRS dihasilkan 6 varietas kelapa sawit, yakni DxP Avros, DxP Bah Jambi, DxP Dolok Sinumbah, DxP Marihat, DxP La Me, dan DxP Yangambi yang dirilis pada tahun 1985, sementara dari program pemuliaan FIPS yang dilakukan oleh Puslitbun Medan telah dihasilkan 2 varietas kelapa sawit, yakni DxP Sungai Pancur 1 dan DxP Sungai Pancur 2.

Pengujian RRS siklus kedua dimulai pada 1986 menggunakan tetua-tetua terbaik dari siklus pertama. Beberapa rekombinasi persilangan, baik dari group dura maupun group tenera/pisifera diuji di empat lokasi. Hasil pengujian siklus kedua menunjukkan produksi rata-rata pada umur 6-9 tahun sebesar 6,76 ton CPO/ha/tahun, lebih tinggi 13% dibandingkan hasil pada siklus pertama. Dibandingkan dengan siklus pertama, kenaikan nilai genetik RRS siklus kedua mencapai 7,3 % untuk tandan buah segar (TBS) dan 10,3 % untuk produksi minyak. Dari siklus kedua RRS telah dihasilkan 5 varietas unggul kelapa sawit, yakni DxP Simalungun dan DxP Langkat yang dirilis pada 2003, DxP PPKS 540 dan DxP PPKS 718 yang dirilis pada tahun 2007, serta DxP PPKS 239 yang dirilis pada tahun 2010.

PPKS telah menyalurkan bahan tanaman kelapa sawit sejak 1971 (Gambar 6). Bila dihitung sejak awal penyaluran hingga tahun 2014, PPKS telah menyalurkan sebanyak 1,03 milyar butir kecambah, atau setara dengan areal kelapa sawit seluas 5 juta ha.

kecambah ppks

Gambar 6. Grafik penyaluran kecambah kelapa sawit di PPKS periode 1971 – 2014

 

Referensi

GAPKI. 2014. Industri minyak sawit Indonesia menuju 100 tahun NKRI: Membangun kemandirian ekonomi, energi dan pangan secara berkelanjutan. 265 hal.

Hartley, CWS. 1977. The Oil Palm. Longsman. London

Hunger, FTW. 1924. De Oliepalm (Elaeis guineensis): Historisch onderzoek over den oliepalm in nederlandisch-indie. N.V.Boekhandel end Drukkerij voorheen E.J. Brilll. Leiden.

Lubis, AU. 1978. Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Marihat. Pematang Siantar.

Lubis, R.A,. Akiyat, and B. Nouy. 1991. Synthetic comparison of yield evolution in North Sumatra of the Marihat RCEC first cycle DxP crosses.

Meunier, J. and J.P. Gascon. 1972. General scheme for oil palm improvement at the IRHO. Oleagineux, 21 (1) : 1 – 12

Pamin, K. 1998. A hundred and fifty years of oil palm development in Indonesia: From the Bogor Botanical Garden to the Industry. Proceedings 1998 International Oil Palm Conference: Commodity of the past, today and the future. pp3-25.

Rutgers, AAL, Blommendal, HN, Van Heurn, FC, Heusser, C, Mass, JGJA, and Yampolsky, C. 1922. Investigation on Oil Palm. Ruygro & Batavia, Co.

 

Note: Materi lengkap dapat didownload pada link berikut:

Sejarah Kelapa Sawit_2015_Final

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s