Benih kelapa sawit

Penyaluran kecambah kelapa sawit di Indonesia oleh 10 (sepuluh) produsen benih selama rentang waktu 2011 – 2015 sangat berfluktuatif. Secara keseluruhan, jumlah benih yang disalurkan selama lima tahun terakhir menunjukkan kecenderungan menurun. Dengan kapasitas produksi sekitar 220 juta kecambah, dan penyerapan hanya berkisar antara 93 – 144 juta butir setiap tahunnya, maka dapat dikatakan bahwa benih kelapa sawit di Indonesia over-supply. Dari satu sisi, ketersediaan benih unggul yang melimpah akan berdampak positif karena konsumen diberikan banyak pilihan dan penyebaran benih ilegitim dapat dikurangi. Masih adanya pekebun yang membeli benih ilegitim lebih dikarenakan kurangnya pengetahuan mengenai keunggulan benih resmi.

 

Penyaluran KKS 2011 - 2015

 

 

Advertisements

Rencana

Niatnya ingin membuat blog khusus kelapa sawit. Gambar untuk header  sudah disiapkan. Tapi, belum kesampaian. Mungkin dijadikan satu dengan blog ini, dan dimasukkan ke dalam features Sawit dan Infografis. Mudah-mudahan hati dan semangat dikuatkan untuk menyiapkan materinya.

 

Urun rembug tentang Moratorium Kelapa Sawit

Pendahuluan

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, berencana mengeluarkan peraturan tentang moratorium lahan untuk kelapa sawit dan lahan tambang (Kompas, 14 April 2016). Pernyataan ini diungkapkan oleh Presiden pada saat kegiatan Gerakan Nasional Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar dalam rangka Hari Hutan Internasional di Pulau Karya, Kepulauan Seribu.  Luas lahan kelapa sawit yang ada saat ini dinilai sudah cukup dan dapat ditingkatkan kapasitas produksinya dengan memaksimalkan potensi yang ada. Menurut Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, peraturan moratorium ini akan dikeluarkan dalam bentuk Instruksi Presiden (Inpres). Namun demikian, wacana moratorium ini belum dikomunikasikan kepada para pemangku kepentingan kelapa sawit (Kompas, 14 April 2016).

Kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati global

Berdasarkan prediksi FAO yang dimuat dalam OECD-FAO Agricultural Outlook 2015 – 2024, konsumsi minyak nabati dunia pada tahun 2015 sebesar 175 juta ton dan akan terus meningkat hingga mencapai 210 juta ton pada 2024 seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia. Dari konsumsi tersebut, sebanyak 80% minyak nabati digunakan untuk kebutuhan pangan, 12% untuk bahan bakar, dan 8% untuk keperluan lainnya. Peningkatan kebutuhan akan minyak nabati harus diiringi dengan peningkatan produksi minyak nabati.

Palm product dari kelapa sawit dalam bentuk crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO) berkontribusi sebesar 62,54 juta ton atau 39% dari total produksi minyak nabati dunia (USDA, 2016).  Bila diasumsikan kontribusi kelapa sawit tetap setiap tahunnya, maka pada 2024 diperlukan sekitar 81,90 juta ton CPO dan PKO. Negara-negara utama penghasil palm product, antara lain Indonesia, Malaysia, Thailand, Colombia, Nigeria, dan Ecuador.

Pada tahun 2015, produksi palm product Indonesia mencapai 37 juta ton, yang terdiri atas 33,4 juta ton CPO dan 3,6 juta ton PKO (Oil World, 2016). Ekspor CPO, PKO dan produk turunannya dari Indonesia sebesar 28,4 juta ton dengan nilai sebesar US$ 16,95 milyar atau setara dengan Rp 228,8 trilyun (Kemendag, 2015). Dengan total produksi tersebut, Indonesia berkontribusi sebesar 53% dari total produksi CPO dan PKO dunia. Data ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan pemeran utama dalam perdagangan minyak nabati dunia.

Untuk memenuhi kebutuhan CPO dan PKO dunia pada 2024 sebesar 81,90 juta ton, sebanyak 43,4 juta ton diperkirakan berasal dari Indonesia. Hal ini dikarenakan posisi negara-negara penghasil CPO lainnya tidak memungkinkan untuk meningkatkan produksi kelapa sawit secara cepat akibat keterbatasan lahan dan faktor batasan budidaya (iklim dan hama penyakit). Indonesia masih berpeluang untuk terus meningkatkan kapasitas produksi kelapa sawit melalui perbaikan sistem budidaya (intensifikasi) dan perluasan areal.

Industri kelapa sawit di Indonesia

Berawal dari empat benih kelapa sawit yang diintroduksi dari Afrika pada tahun 1848, industri kelapa sawit Indonesia terus berkembang hingga menjadi penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia.  Luas perkebunan kelapa sawit Indonesia pada tahun 2015 mencapai 11,3 juta ha yang terdiri atas 750.000 ha perkebunan negara (6,6%), 5,97 juta ha perkebunan besar swasta nasional (52,8%), dan 4,58 juta ha perkebunan rakyat (40,5%).  Selain sebagai sumber pemasukan devisa, kelapa sawit juga sangat berperan dalam penyediaan tenaga kerja dan pengembangan wilayah melalui dampak multiplier effect dari pengembangan perkebunan kelapa sawit. Catatan dari PASPI (2015), jumlah tenaga kerja yang terserap pada industri kelapa sawit mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, yakni 2,1 juta orang pada tahun 2000 menjadi 8,4 juta orang pada tahun 2015. Tenaga kerja yang dimaksud mencakup karyawan di perusahaan perkebunan, petani kelapa sawit, tenaga kerja industri hilir dan tenaga kerja penyedia barang dan jasa.

Perkebunan kelapa sawit berkembang di 190 kabupaten dan 23 provinsi di Indonesia. Secara ekonomi, perkebunan kelapa sawit menggerakkan pertumbuhan dan perkembangan di daerah tersebut. Kontribusi perkebunan kelapa sawit terjadi melalui mekanisme fiskal baik ke pemerintah daerah maupun pemerintah pusat (PASPI, 2015). Perekonomian daerah dengan sentra perkebunan kelapa sawit tumbuh lebih cepat dibandingkan  dengan daerah yang tidak dihela oleh pertumbuhan sentra sawit, yang ditunjukkan oleh Produk Domestrik Bruto Regional (PASPI, 2015).

Moratorium dan perdagangan minyak nabati

Wacana moratorium lahan untuk pengembangan kelapa sawit akan berdampak besar kepada supply dan harga palm product ke pasar dunia. Hal ini dikarenakan: (a) Keseimbangan supply palm product di Indonesia selama ini terjadi dengan mekanisme berkurangnya produksi akibat peremajaan kelapa sawit yang mencapai 5% dari total area tanaman menghasilkan dikompensasi dengan penambahan luas areal kelapa sawit baru; dan (b) Berkurangnya supply akan berefek kepada naiknya harga minyak kelapa sawit, dan menjadi tidak kompetitif. Sebagaimana diketahui harga minyak sawit saat ini lebih kompetitif dibandingkan harga minyak nabati lainnya dan telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat dunia di negara-negara berpendapatan rendah. Kenaikan harga minyak sawit diprediksi akan mendorong kenaikan berlebihan pada harga minyak nabati lain, seperti minyak rapeseed, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari.

Moratorium dan azas keadilan

Kelapa sawit di Indonesia secara nyata telah berkontribusi terhadap pengembangan wilayah dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Wacana moratorium untuk pengembangan kelapa sawit lebih mencerminkan perlakuan tidak adil terhadap satu komoditas, ketimbang alasan untuk pelestarian lingkungan. Bila semua pihak ingin bersikap adil, maka moratorium juga perlu dilakukan untuk tanaman kedelai dan rapeseed. Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang paling produktif dan efisien dibandingkan kedelai dan rapeseed. Dengan rerata produksi minyak antara 4-5 ton/ha pada skala komersial, tingkat produksi minyak kelapa sawit melebihi kemampuan produksi minyak tanaman rapeseed (2 ton/ha) dan kedelai (0.5 ton/ha) (Zimmer, 2010).  Budidaya rapeseed dan kedelai memerlukan areal 3-10 kali lipat untuk menghasilkan tingkat produksi minyak yang sama dengan kelapa sawit. Data menunjukkan bahwa luas penambahan areal untuk budidaya kedelai mencapai 85,4 juta ha dan rapeseed 29,3 juta ha selama kurun waktu 48 tahun (1965-2013), sementara penambahan luas areal kelapa sawit pada kurun waktu yang sama hanya sebesar 13,4 juta ha.

Moratorium dan kedaulatan energi

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 23 Maret 2015 secara resmi meluncurkan Pelaksanaan Mandatori Pemanfaatan Biodiesel 15% (B15). Kebijakan B15 dilaksanakan dalam rangka mendukung kebijakan ekonomi makro dan menghemat devisa negara melalui pengurangan impor bahan bakar minyak.  Pelaksanaan mandatori B15 akan dapat menyerap produksi biodiesel dalam negeri sebesar 5,3 juta KL atau setara dengan 4,8 juta ton CPO dan memberikan penghematan devisa sebesar USD 2,54 miliar (Kementerian ESDM, Maret 2015). Kebijakan ini memerlukan ketersediaan CPO yang cukup sebagai bahan baku diesel. Pengalaman dalam  implementasi kebijakan B10 yang dicanangkan sejak 2013 belum terlalu efektif karena terkendala tingginya harga biodiesel. Adanya moratorium dikhawatirkan akan semakin melambungkan harga CPO, yang berdampak kepada harga biodiesel semakin tidak kompetitif. Rencana implementasi B15 dan B20 berbasis kelapa sawit juga akan terdampak dengan adanya moratorium ini.

Moratorium dan pengembangan wilayah perbatasan

Pemerintah pernah melontarkan rencana  untuk pengembangan satu juta hektar di wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia melalui penanaman komoditas kelapa sawit, tebu dan tanaman pangan pada awal tahun 2015.  Program pengembangan wilayah perbatasan diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat utamanya petani, baik yang di usaha perkebunan maupun di pertanian.  Pengembangan perkebunan kelapa sawit di wilayah perbatasan diharapkan berpotensi untuk menyerap 240.000 tenaga kerja baru, membuka wilayah pertumbuhan ekonomi baru, menambah produksi sawit nasional, dan mengukuhkan posisi Indonesia dalam perdagangan global produk sawit (Bisnis Indonesia, 8 April 2015). Berdasarkan hasil penilaian kelas kesesuaian lahan, estimasi luas areal yang potensial untuk tanaman kelapa sawit di 8 (delapan) kabupaten di Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia adalah 3,7 juta ha. Untuk jangka pendek, total lahan yang bisa dimanfaatkan sekitar 1,5 juta ha yang termasuk dalam kelas lahan S1 dan S2. Sebanyak 2,2 juta ha yang merupakan lahan kelas S3 dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kelapa sawit jangka panjang.

Wacana moratorium penggunaan lahan untuk kelapa sawit bertolak belakang dengan kebijakan Pemerintah dalam pengembangan wilayah perbatasan. Sebagaimana diketahui daerah perbatasan merupakan daerah yang memerlukan perhatian khusus. Wilayah perbatasan memiliki laju pertumbuhan dan perkembangan ekonomi yang lambat, jauh dari pusat kegiatan, infrastruktur yang minim, dan terbatasnya investasi dan intervensi dari luar. Sebagai agent of development, perkebunan kelapa sawit sangat berperan untuk ambil bagian dalam pengembangan wilayah. Perkebunan sawit cukup efektif menghidupkan kegiatan ekonomi di wilayah pedalaman. Bila moratorium dicanangkan maka pengembangan wilayah perbatasan akan terganggu karena hanya mengandalkan anggaran dari Pemerintah melalui kegiatan rutin. Melalui perkebunan kelapa sawit, pengembangan wilayah perbatasan dan daerah pedalaman dapat dilakukan dengan mengikutsertakan perusahaan swasta dan petani. Moratorium lahan untuk pengembangan sawit di wilayah sentra perkebunan kelapa sawit mungkin dapat dipahami, namun untuk wilayah-wilayah di perbatasan perlu dipertimbangkan kembali.

Kelapa sawit sebagai komoditi strategis

Misi untuk penataan lahan dalam kaitannya dengan perkebunan kelapa sawit tidak harus dilakukan dengan moratorium. Penyusunan cetak biru (blue print) industri kelapa sawit nasional, termasuk didalamnya peruntukan lahan bagi kelapa sawit, dengan melibatkan seluruh pemegang kepentingan (stakeholders) perlu dilakukan kembali dengan memasukkan kondisi terkini, mengingat kelapa sawit merupakan komoditas strategis nasional. Manajemen industri kelapa sawit nasional dalam koordinasi satu badan oleh Pemerintah, sebagaimana yang dilakukan oleh Malaysia melalui Malaysian Palm Oil Council dan Malaysian Palm Oil Board perlu dipertimbangkan keberadaannya. Terlalu banyaknya meja birokrasi yang menangani kelapa sawit menyebabkan pengembangan industri kelapa sawit tidak fokus dan saling tumpang tindih.

Moratorium, intensifikasi, dan transfer teknologi

Bila moratorium lahan untuk pengembangan kelapa sawit didasarkan kepada asumsi bahwa luas areal kelapa sawit di Indonesia telah mencukupi, maka konsekuensinya adalah percepatan intensifikasi. Produktivitas kelapa sawit Indonesia masih sangat rendah, sekitar 3,0 ton CPO/ha/tahun. Program intensifikasi untuk mencapai rerata nasional 5 ton/ha/tahun – yang ditujukan untuk mencapai produksi 45 juta ton pada 2024, akan terkendala dengan tingkat produksi rata-rata kelapa sawit dari perkebunan rakyat yang hanya mencapai 2.5 ton/ha/tahun. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa upaya perbaikan kebun kelapa sawit rakyat masih memerlukan waktu yang sangat panjang.

Selama ini, perkebunan kelapa sawit di Indonesia umumnya belum mencapai potensi hasil seperti yang diinginkan. Varietas kelapa sawit yang dirilis Pemerintah saat ini memiliki potensi hasil CPO dalam kisaran 7-9 ton/ha/tahun, sementara perusahaan perkebunan terbaik baru mencapai kinerja produksi CPO pada level 5-6 ton/ha/tahun. Tingkat produksi kelapa sawit pada perkebunan rakyat jauh lebih rendah lagi. Pada perusahaan besar, permasalahan kesenjangan hasil banyak terkait dengan keterbatasan potensi lahan (marjinal) dan iklim, serta penerapan kultur teknis yang belum optimal, seperti keterlambatan pemupukan dan kehilangan hasil saat panen. Masalah klasik di perkebunan rakyat adalah penggunaan bibit asalan dan minimnya pemahaman terhadap kultur teknis standar. Penggunaan bibit asalan oleh rakyat disebabkan oleh beberapa hal seperti akses yang terbatas, lokasi yang jauh dari produsen benih, serta keberadaan penjual benih ilegitim.

Di sisi lain, moratorium mungkin dapat menjadi pemicu untuk mempercepat transfer teknologi. Masalah lain di perkebunan rakyat adalah pengetahuan kultur teknis kelapa sawit yang masih kurang. Sementara itu, transfer paket teknologi untuk intensifikasi kepada pekebun rakyat masih belum berjalan secara maksimal. Dana yang tersedia di BPDP Kelapa Sawit dapat dialokasikan untuk pemberdayaan dan transfer teknologi ke petani. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah paket teknologi ini dalam proses transfernya ke petani akan lebih efektif dilakukan dalam kelompok-kelompok. Penguatan kelembagaan petani menjadi pekerjaan rumah lainnya untuk diselesaikan, selain isu sustainaibility pada perkebunan rakyat.

Paket-paket teknologi untuk peningkatan produktivitas kelapa sawit (intensifikasi) telah dikembangkan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), seperti penyediaan varietas kelapa sawit unggul berproduksi tinggi, teknik peremajaan yang ramah lingkungan, teknologi dan dosis standard pemupukan kelapa sawit yang telah teruji pada lahan mineral dan lahan gambut, pengendalian hama, penyakit dan gulma dengan pendekatan biologis, rekomendasi tindakan agronomis untuk antisipasi dinamika iklim yang dapat mengganggu pencapaian produksi seperti kekeringan, serta mekanisme perbaikan infrastruktur jalan untuk pengangkutan hasil yang lebih maksimal. Beberapa program yang telah dijalankan PPKS seperti Prowitra, Waralaba, Ruko Outlet, dan Desa Binaan merupakan media untuk transfer teknologi perlu lebih intensif dilakukan bersama petani.

Catatan akhir

Moratorium untuk pengembangan areal kelapa sawit dapat dilakukan secara selektif. Untuk wilayah-wilayah yang masih berpeluang untuk dikembangkan, seperti di wilayah perbatasan dan beberapa wilayah di Bagian Timur Indonesia, pengembangan kelapa sawit masih diperlukan mengingat multiplier effect kelapa sawit untuk percepatan pembangunan wilayah setempat.  Fokus percepatan intensifikasi diarahkan untuk perbaikan produktivitas kelapa sawit rakyat melalui transfer teknologi, peningkatan kapasitas, dan pendampingan dalam penerapan good agricultural practices.

Cerita di balik cover DAAD

Ini cerita tentang cover sebuah booklet terbitan DAAD tahun 2012. DAAD adalah sebuah lembaga Pemerintah Jerman yang memfasilitasi beasiswa dari berbagai negara untuk menempuh studi di Jerman. Saat saya mengambil program S2 dan S3, sebagian besar teman-teman seangkatan mendapat beasiswa dari DAAD. Sementara saya sendiri mendapat sponsor beasiswa dari kantor tempat saya bekerja, PPKS Medan.

Saya menjalani program doktoral di Institute of Plant Breeding, Georg-August-Universität Göttingen. Pada saat yang hampir bersamaan, ada 11 orang mahasiswa PhD lainnya. Bisa dibayangkan betapa meriahnya institut kami. Saya tergabung dalam kelompok riset Rapeseed dengan beberapa mahasiswa lainnya yang berasal dari Jerman, Malaysia dan Mesir. Untuk grup Rapeseed di tahun awal program doktoral, kami menghabiskan banyak waktu di lapangan.

Suatu hari, seorang fotografer freelance DAAD datang ke institut kami dan dia bilang ingin memotret kegiatan kami di kebun percobaan rapeseed. Kebetulan pada saat itu, sekitar bulan Mei 2011, areal rapeseed kami sedang indah-indahnya berbunga. Hamparan kuning di mana-mana. Sang fotografer meminta tiga orang dari Grup Rapeseed untuk menjadi model. Untuk mengakomodir typical international students, maka dipilihlah saya (Indonesia), Li Shia (Malaysia yang keturunan Tiongkok), serta Sebastian (asli dari Jerman).

Pemotretan dilakukan dengan persiapan seadanya. Pakaian pun hanya yang dipakai saat pengamatan. Li Shia memegang tongkat untuk mengukur tinggi tanaman, sementara saya dan Sebastian diminta untuk berakting layaknya dua peneliti yang sedang berdiskusi di lapangan. Pemotretan berjalan singkat, dan kami tidak berpikir apakah foto tersebut akan dipakai untuk cover sebuah booklet.

Hingga pada akhir 2011, Li Shia mendapat info dari temannya, seorang penerima beasiswa DAAD, bahwa wajahnya dijadikan cover booklet. Kami bertiga hanya senyum-senyum mengetahui hal ini, karena tidak ada satu pun dari kami yang mendapat beasiswa dari DAAD, tetapi berhasil menjadi cover booklet mereka.

Life is always beautiful.

image

Menghilangkan stress dengan Coloring for adults

Mungkin dapat dibilang terlambat bagi saya untuk mengetahui bahwa ada aplikasi ‘Coloring for Adults’ di Android. Baru malam ini saya menginstall aplikasi tersebut. Tapi tak apa. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.

Saya menyukai kegiatan mewarnai dan membuat doodle. Dulu saat SMA, saat pelajaran mulai terasa membosankan, saya mulai membuat doodle. Bentuknya abstrak. Kadang hanya bentuk bunga. Atau sekedar rangkaian huruf, berupa nama orang atau singkatan dengan hiasan aneka bentuk di dalamnya. Sayangnya, aneka doodle yg saya buat sejak SMA dan masa-masa kuliah tak terdokumentasi. Saya teringat seorang teman kost meminta saya membuatkan nama gadis yang disukainya dengan aneka warna. Katanya untuk hadiah ulang tahun si gadis. Dan mereka hidup bahagia berdua sekarang.

Aplikasi mewarnai untuk dewasa yang saya pilih namanya “Adult Coloring”. Ada fasilitas basic dengan beberapa galeri gambar yang bisa langsung digunakan. Contohnya gambar dari Galeri Mandala seperti di bawah ini:

image

Bagi yang menyukai kegiatan mewarnai, aplikasi Android yang satu ini benar-benar pilihan yang tepat. Dengan tambahan biaya sekitar US $ 9.9, kita bisa mengakses aneka galeri dan tambahan warna. Buat saya, aplikasi ini paling pas untuk stress relief sambil membayangkan kegiatan mewarnai dan membuat doodle saat SMA dan kuliah. Berikut hasil  mewarnai untuk gambar dari Galeri Secret Garden yang dikerjakan dalam waktu satu jam.

image

Sepertinya untuk beberapa waktu ke depan, website ini akan dipenuhi dengan gambar doodle warna-warni. Hal ini dikarenakan level stress akan meningkat secara signifikan menjelang Ramadhan.

Salam hangat.

image

Software untuk analisis data pemuliaan

Kali ini saya ingin share beberapa free software yang digunakan untuk analisis data pemuliaan. Mungkin saja ada di antara teman2 ada yang ingin ‘mencemplungkan diri’ berkutat dengan data2 penelitian yang berkaitan dg pemuliaan. Beberapa di antaranya masih saya pelajari, dan ternyata memang aplikasinya tidak semudah yang dibayangkan.

1. PLABSTAT

Software ini digunakan untuk analysis of variance, menghitung heritability dan kalkulasi correlation antar sifat (phenotypic correlation) dengan pendekatan Pearson dan Spearman.  Software ini didevelop oleh Prof Utz dari University of Hohenheim -Stuttgart dan bisa di-download pada link berikut:

https://plant-breeding.uni-hohenheim.de/software.html

2. FactoMineR

Software statistik berbasis R, digunakan untuk Principal Component Analysis. Lumayan simple menggunakannya, dan sudah terintegrasi dengan R Commander. Bila tertarik silakan berkunjung ke websitenya: http://factominer.free.fr/

3. Adegenet

Software ini juga berbasis R. Saya gunakan untuk menghitung koefisien korelasi antara dua matriks. Link website: http://adegenet.r-forge.r-project.org/

4. Agricolae

Paket analisis statistik berbasis R yang ditujukan khusus untuk penelitian pemuliaan dengan berbagai rancangan percobaan. Saya gunakan untuk path analysis. Lebih lengkapnya dapat dilihat di http://tarwi.lamolina.edu.pe/~fmendiburu/

5. GenAlEx

Software untuk analisis genetik berbasis Excel. Sangat simple dan mudah dioperasikan. Ada banyak program genetik yang tersedia. Bagi saya software ini digunakan untuk analisis Genetic Distance dan Principal Coordinate Analysis. Software ini didevelop oleh Prof. Peakall dari ANU Australia dan Prof. Smouse dari New Brunswick – USA. Informasi lengkap bisa diakses di http://biology.anu.edu.au/GenAlEx/Welcome.html

6. QTL Network

Paket software untuk analisis QTL dengan metode yang relatif simple, bila data peta genetik dan data fenotipiknya telah tersedia. Software ini didevelop oleh Prof. Zhu dari Zhejian University – Hangzhou (saya bersyukur pernah bertemu langsung dengan orangnya). Bila tertarik, silakan kunjungi websitenya di http://ibi.zju.edu.cn/software/qtlnetwork/

7. Windows QTL Cartographer

Software ini juga untuk analisis QTL, menyediakan beberapa pendekatan analisis antara lain: Interval mapping dan Composite Interval Mapping. Beberapa peneliti mengatakan software lebih akurat dalam deteksi QTL.  http://statgen.ncsu.edu/qtlcart/WQTLCart.htm

8. STRUCTURE

Software untuk kajian struktur populasi, dengan menggunakan berbagai input data molekuler. Bila punya keluangan waktu silakan mencoba2, karena proses analisis datanya relatif lama. Software bisa didownload di : http://pritch.bsd.uchicago.edu/software.html

9. TASSEL

TASSEL digunakan untuk asosiasi analisis dan linkage disequilibrium. Programnya sih relatif mudah dipelajari. Hanya saja pengetahuan genetik dan statistik di balik software ini yang lumayan ribet untuk dipahami.

http://www.maizegenetics.net/index.php?option=com_content&task=view&id=89&Itemid=119

10. MapChart

Didevelop oleh scientist dari Wageningen University. Powerful tool dan informatif untuk pembentukan peta genetik, dan menggabungkannya dengan QTL yang sudah dideteksi.

http://www.wageningenur.nl/en/show/Mapchart.htm

 

venn_result4021_Oil content

Website bermanfaat bagi mahasiswa doktoral

Materi ini pernah saya posting tahun 2014, beberapa hari setelah saya menjalani defense untuk disertasi. Rencananya memang beberapa materi yang dianggap penting akan saya pindahkan ke blog pribadi ini.

Studi doktoral adalah gabungan kemandirian bekerja, ketahanan menghadapi masa-masa sulit, dan ketaatan menjaga konsentrasi. Ada beberapa website yang mungkin bisa dibaca sebagai selingan saat ‘break’ dari pekerjaan lab, mengolah data atau menulis thesis.

1. Thesis Whisperer http://thesiswhisperer.com/ 

Ada banyak informasi bermanfaat buat rekan2 yang sedang dan akan menjalani program PhD dari website ini. Salah satu artikel yang berjudul ‘The Valley of Shit’ bercerita tentang dinamika seorang mahasiswa PhD yang mendadak frustasi dengan studinya. Bacaan bagus untuk penambah semangat http://thesiswhisperer.com/2012/05/08/the-valley-of-shit/

2. Teknik Presentasi http://www.yourformula.eu/internalposts/10-tips-to-bring-presentations-to-life-for-ph-d-students/

Sepanjang studi doktoral, presentasi adalah teman setia. Minimal setahun sekali kita diwajibkan presentasi untuk progress report di depan kolega. Website ini memberikan beberapa tips yang sangat bermanfaat untuk persiapan presentasi.

3. Bank kata-kata http://www.phrasebank.manchester.ac.uk/introductions.htm

Menulis thesis. Kedengarannya mudah, tapi pelaksanaannya kadang membuat  goyah. Phrase bank di website ini membantu kita mendapatkan ide dalam menyusun kalimat.

4. Manajemen Literatur http://www.mendeley.com/

Pusing dengan manajemen literatur? Jangan lagi! Mendeley ini bisa diandalkan untuk reference manager dan citation. Selama menulis saya upgrade ke premium membership dengan biaya sekitar 5 Euro per bulan.

5. Koleksi Thesis http://www.theses.com/

Powerful website untuk mencari thesis yang diterbitkan oleh seluruh Universitas di UK. Gratis tis..

DSC_0037

 

Memulai kembali

Keinginan untuk memiliki blog sendiri sebenarnya sudah cukup lama. Blog saya yang lama, http://www.esprito.wordpress.com, sudah lama sekali tidak saya update. Saya berpikir mungkin sudah saatnya saya memiliki website pribadi yang dikelola secara serius. Dalam artian, blog diupdate secara reguler, tema yang lebih spesifik, dan ada unsur edukasi di dalamnya. Meski demikian, saya juga akan tetap memasukkan unsur suka-suka, yang berisi hal-hal ringan. Mudah-mudahan blog pribadi ini mampu menjadi wadah untuk menampung keinginan berbagi yang menggelegak *haiyah bahasanya*.

Salam hangat.

DSC_0026